RSS

Cerpen 3 THE STORY OF MY LIFE

Hai sobat, udah lamaaaa banget nih nggak aktif blogging lagi, tapi sekarang gue udah come back. Di postingan kali ini gue cuma nge post cerpen bikinan gue yang merupakan intepretasi dari lagunya One Direction - Story Of My Life. Tahu, kan? sebelumnya bagi yang belum tahu lagunya atau mau lihat liriknya, bisa klik di sini. okedeh nggak basa-basi lagi. Silakan membaca :)




THE STORY OF MY LIFE

Di jalan yang sunyi ini, aku menapaki setiap senti jalan yang penuh dengan kenangan manis. Bila ku ingat-ingat, mungkin hanya akan menancapkan luka yang lain. Luka yang berusaha kututupi dengan bunga yang mekar, tetapi tetap saja bekasnya tidak mau hilang. Sudah hampir satu minggu aku berpisah dengannya, dia yang meninggalkan ilusinya, dia yang meninggalkan berbagai macam ingatan yang kini kurasakan begitu kelam. Rasa sakit ini sebernya sederhana, tetapi mengapa terasa begitu rumit? Apa mungkin aku yang berlebihan? Tidak! Semua ini memang menyakitkan.


 


Setahun sebelumnya…
            Burung berkicau menandakan matahari telah menyapa dunia, sinar matahari mengelus lembut pipiku yang basah karena film romantis yang ku tonton tadi malam. Embun di jendela menyegarkan pandanganku yang tadi malam keruh dipenuhi mimp-mimpi tak jelas.
            Juli 2013. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Seragam putih abu-abu menandakan bahwa aku bukanlah anak kecil lagi. Aku telah berubah, bertransformasi menjadi seorang laki-laki yang siap menerima orang lain untuk ambil bagian dalam sejarah hidupku.
            Jam berdentang menunjukkan pukul 06.15 pagi, aku berangkat sekolah diantar ayah. Kakiku melangkah memasuki ruangan kelasku, MIA 6. Semua muka di ruangan ini terasa begitu asing, maklumlah kami berasal dari berbagai smp yang berbeda. Setelah sesi perkenalan selesai, aku mulai mengenal teman-teman baruku, mereka cukup menyenangkan.
            Kehidupan yang seperti ini masih terasa mengganjal, tiba-tiba seorang wanita menghampiriku.
            “ Hai, aku Arin. Namamu siapa? Maaf tadi aku tidak memperhatikan.”
            “ Oh, hei. Nama gue Andi Erlangga Utama, lo Arin Florensia Talita, kan? Tadi gue merhatiin.” Jawabku.
            “Yaps, senang berkenalan denganmu.”
“Aku juga.”
Percakapan singkat segera berakhir setelah bel istirahat berbunyi. Aku memutar otakku sebentar, makhluk apa yang telah merasuki gadis itu. Aku tidak peduli lagi.
Sesampainya di rumah, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia berhasil menguras pikiranku, aku mati penasaran dengannya.
Seminggu bersekolah, aku berhasil mendapatkan nomor telepon Arin beserta akun facebooknya. Kukumpulkan keberanianku untuk menghubunginya, tidak pernah kusangka, dia merespon balik. Dia begitu berbeda dengan gadis yang lain, dan kupikir aku menyukainya. Dia memang tidak begitu cantik, sifatnya yang ceria, percaya diri, mudah bergaul, dan nyambung diajak ngobrol membuatku merasa nyaman berada di dekatnya.


 


            Hampir 12 bulan waktu berjalan setelah aku mengenalnya. Sepuluh bulan yang lalu, tepatnya awal musim panas di bulan oktober, aku mengajak Arin mendaki bukit yang tenang. Aku menceritakan segala perasaanku padanya. Sejak saat itu juga, kami dalam sebuah hubungan.
            Kami menjadi pasangan yang sempurna di SMA kami, setidaknya menurutku memang seperti itu. Setiap detik yang kuhabiskan dengannya terasa sempurna. Dia satu-satunya yang bisa menghangatkan hatiku, tidak dipungkiri, cinta memang begitu menyenangkan.
            Kaki mebawaku menulusuri jejak yang pernah aku tapaki bersama Arin. Begitu banyak butir kenangan yang masih tertinggal di sini. Air mata kembali merangkak menuruni pipi bercampur dengan tangisan langit. Hatiku masih saja tidak percaya bahwa kami sudah berpisah.
            Kupandangi dinding facebook yang memuakkan itu, di dinding ini tertata berbagai macam kenangan yang tidak akan pernah bisa terhapus. Foto-foto kami berdua terlihat begitu bahagia, semakin membuat hatiku sakit luar biasa. Telah kucoba melapangkan hatiku setelah kejadian pagi kelabu itu, nyatanya semua sia-sia. Setelah dia memutuskan untuk berpisah denganku, semua orang yang datang setelahnya terasa hambar, aku tidak bisa menyambut yang lain, hatiku hanyalah untuknya.
            Lima puluh delapan hari yang lalu, setiap inci dari tubuhku terasa kelu, air mata merebak tanpa  bisa terbendung lagi. Satu kalimat meluncur sari bibir manis Arin, dia mengatakan bahwa kami telah berubah, segala sesuatunya terasa hambar. Perkataannya terdengar begitu menyakitkan, menerobos melalui gendang telinga. Aku bisa merasakan sebuah permohonan dalam kalimat itu, Arin ingin aku mengakhiri hubungan ini, yang mungkin jika aku mengakhirinya, semua perkataannya akan tertulis di batu nisanku kelak, dia mungkin tak mengerti bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya.
            Merangkai luka itu lagi, sakitnya masih terasa sampai sekarang, menyayat hatiku yang sepenuhnya hanya milik Arin. Aku bahkan mulai merasa lelah meratapinya berminggu-minggu. Tanah yang kupijak terasa terbelah, langit yang ku pandang kini semakin mengerikan, dinding di kamarku serasa ingin ambruk menghantamku, khayalanku terus melambung seakan dunia telah rusak dan berhenti berputar. Aku meradang memikirkannya, tak ada penyesalan aku berpegang teguh pada satu hati, tetapi nyatanya hati yang ku pegang erat itu semakin menghempaskanku dengan dahsyat.
            Hati berbisik untuk menemui Arin dan memperbaiki hubungan kita. Aku menghubunginya agar mau bertemu denganku di tempat biasa kami saling bertemu. Yaris merah mengantarkanku menuju kerumah Arin. Di dalam mobil, hanya kebisuan yang tercipta. Malam itu begitu dingin, sedingin perasaan Arin padaku. Aku memberanikan memegang tangannya yang terlihat kedinginan, dan waktu kurasakan membeku seketika.
            Satu kata, dua kata mulai keluar dari mulutku, ku katakan aku sangat menikmati kebersamaan kita. Kukilas lagi kenangan-kenangan indah saat kami berdua bersama, meyakinkannya bahwa dia akan bahagia jika terus bersamaku. Aku bisa melihat dari matanya bahwa dia mulai muak dengan semua ini, tetapi aku tidak menyerah karena jika aku berusaha, kisah kita mungkin akan berbeda mulai malam ini.
            Kulihat lagi tulisan-tulisan indahku yang pernah mewarnai dunia, tulisan-tulisan itu kutujukan hanya untuk Arin seorang. Aku sangat merindukan waktu dimana dia menemaniku menulis untuknya. Duniaku yang dulu sangat berwarna, dan sekarang yang tersisa hanyalah warna abu-abu, begitu pekat sampai aku tidak dapat melihat warna yang lain. Sekali lagi aku mencoba untuk membuka hatiku untuk yang lain agar bisa melupakannya, tetapi hati ini menolak keluar dari sangkar.
            Aku sadar bahwa esok hari berkutnya yang terjadi hanyalah kenyataan bahwa kisahku dan Arin tinggal seberkas cahaya pagi yang akan hilang ditelan bukit. Aku bukanlah pecundang yang mudah menyerah atas apa yang terjadi, cintaku akan ku perjuangkan untuk Arin, dia adalah satu-satunya.
            Setelah sekian lama, akhirnya kesempatan untuk mendapatkan hubungan yang utuh dengan Arin kembali. Walaupun sangat sulit sesulit mengejar awan, tetapi aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Dia masa lalu, masa kini, dan masa depanku.
           

Lirik Lagu One Direction Story Of My Life

Gue khusus memosting lirik lagu ini soalnya bakalan berkaitan sama postingan selanjutnya, happy reading :)

STORY OF MY LIFE LYRIC
Verse 1 - Harry
Written in these walls are the stories that I can't explain,
I leave my heart open but it stays right here empty for days.
[Liam]
She told me in the morning she don't feel the same about us in her bones,
It seems to me that when I die these words will be written on my stone.
Pre-chorus - Zayn
And I'll be gone gone tonight
The ground beneath my feet is open wide
The way that I been holdin' on too tight
With nothing in between
Chorus - Harry
The story of my life I take her home
I drive all night to keep her warm and time...
Is frozen (the story of, the story of)
[All]
The story of my life I give her hope
I spend her love until she's broke inside
The story of my life (the story of, the story of)
Verse 2 - Niall
Written on these walls are the colours that I can't change
Leave my heart open but it stays right here in its cage
[Liam]
I know that in the morning now, I'll see us in the light upon a hill
Although I am broken my heart is untamed stillx
Pre-chorus - Louis
And I'll be gone gone tonight
The fire beneath my feet is burning bright
The way that I been holdin' on so tight
With nothing in between
Chorus - Harry
The story of my life I take her home
I drive all night to keep her warm and time...
Is frozen (the story of, the story of)
[All]
The story of my life I give her hope
I spend her love until she's broke inside
The story of my life (the story of, the story of)
Bridge - Zayn
And I been waiting for this time to come around
But baby running after you is like chasing the clouds
Middle 8 - Niall
The story of my life I take her home
I drive all night to keep her warm and time...
Is frozen
Chorus - All
The story of my life I give her hope (give her hope)
I spend her love until she's broke inside (until she's broke inside)
The story of my life (the story of, the story of)
The story of my life
The story of my life (the story of, the story of)
[Harry]
The story of my life

Cerpen 2 "1800 DETIK"



1800 Detik
Karya : Alisa Latifatul Munawaroh

            Hampir 15 menit aku tenggelam dalam keadaan khawatir, was-was, takut dan tegang. Tak ada lagi yang bisa dipikirkan kecuali pulang ke rumah. Tak ada lagi yang bisa diperhatikan kecuali jarum jam. Semuanya tak terdengar dengan jelas, hening, kacau dan berantakan.
            Hari itu, hari terakhir aku menjalani tes kenaikan kelas, dari kelas VI ke kelas VII. Dari sebutan anak SD ke anak SMP. Dari sebutan seorang anak ke seorang remaja. Hari itu, merupakan hari terakhir aku mengadu nasib di bangku SD. Semuanya ceria, kecuali yang tidak. Semuanya bahagia, kecuali yang gagal dalam mengerjakan soal paling mematikan.
            Kembali terngiang ucapan ibu tadi pagi di benakku. Seakan-akan semuanya terbang dengan jelas di awang-awang.
“Nanti pulang jam berapa?” tanya ibu.
“Nggak tahu, kaya biasanya kok. Mungkin, ditambah 15 menitan” jawabku dengan lincah.
“Oh, lha mau ikut ibu pergi nggak?” tanya ibu untuk kedua kalinya.
“Kemana? Memangnya sekarang hari apa? Oh, iya. Mau ke tempat terapi kakak ya?” ucapku tanpa jeda.
“Iya” kata ibu dengan singkat, jelas dan padat.
“Dimana? Jauh?” tanyaku bergantian.
“Itu lho, mana? Ibu lupa. Oh itu, Wonokasian apa mana itu?” jawab ibu kurang meyakinkan.
“Oh, ya ya, nanti aku ikut. Yey, jangan ditinggal ya?” ucapku dengan senyum berbinar-binar.
“Asal pulangnya jangan kesiangan aja” kata ibu mengingatkan.
“Oke deh” jawabku sebagai penutup dari percakapan tadi.
Semua ingatan lari setelah dering bel masuk ke telinga kanan, dan berhenti di ujung telinga kiri. “Pulang-pulang, pulang-pulang. Pak pulangkan?” tiba-tiba sebuah kalimat meloncat dari mulut tanpa terkendali. Semua pandangan mata menuju satu arah. Seketika, aku merasakan sebuah kenyerian di tubuh, kenyerian karena menanggung rasa malu berlebihan.
Lima menit setelah bel berbunyi, aku tidak berani mengingatkan guru kalau waktunya pulang. Aku juga takut ditinggal pergi oleh ibu. Akhirnya dengan sekuat tenaga, aku memberanikan diri untuk pulang. Dan ternyata, gurupun mempersilakan dengan senang hati.
Aku melangkahkan kaki dengan cepat, takut tertinggal sebuah benda beroda empat dan berwarna hijau mirip lumut. Aku sudah merencanakan dengan matang sebelumnya, jikalau aku ditinggal, aku akan mengurung diri di kamar. Jikalau aku dinanti, aku akan memasang senyum lebar-lebar. Baru saja keluar dari gerbang sekolah, terdengar suara ibu yang merdu memanggilku. Kulihat ke sekeliling, ternyata semuanya telah menanti di seberang jalan. Langsung saja aku menghampiri dan memasukkan badanku ke dalam mobil.
Aku terpaksa berganti pakaian di dalam mobil. Maklum saja, aku belum pulang ke rumah. Dalam perjalanan, seperti biasanya, aku dan kakak laki-lakiku saling ledek untuk menghangatkan suasana, layaknya Tom dan Jerry. Ibu dan Kak Rifa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan perdebatan kami.
Sampai tujuan, semuanya turun, kecuali Kak Pran, panggilan akrabku kepada kakak laki-lakiku. “Aku di sini saja ah, males keluar. Mending browsing internet” katanya.
“Ya sudah” ibuku menimpali.
“Mana hpnya?” jawab Kak Pran kembali.
“Hp apa? Lha itu yang di tangan apa?” sekarang giliranku yang menjawab.
“Hp yang buat internetan, pakai punyamu” ucapnya.
“Hah? Kok punyaku?” jawabku dengan nada bingung.
“Kasihkan saja, ayo cepat” tiba-tiba ibu menyuruh untuk memberikan hpku, aku hanya terdiam dan merelakan benda kesayanganku waktu itu, untuk menemani Tom di mobil.
Sejam berlalu, Kak Rifa sudah selesai terapi. Tidak seperti biasanya, kami memutuskan pulang melewati jalan menurun yang belum pernah dilewati sama sekali. Tapi, ada yang berkata bisa dilewati.
Saat sedang melewati jalan yang hanya cukup untuk satu mobil tersebut, kami kembali tertawa bersama. Samping kiri dari jalan adalah jurang, yang tertutup deretan pohon salak. Tiba-tiba, muncul sesosok laki-laki tua mengenakan pakaian bertani dari arah bawah.                         “Berhenti, jalan ini tidak bisa dilewati oleh mobil, jalan ini buntu, setelah tikungan ini ada jurang” kata bapak tadi mengingatkan.
“Hah? Tapi saya sudah bertanya, katanya bisa dilewati mobil Pak” jawab Kak Pran selaku supir.
“Tidak, tidak bisa. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri!”
“Tidak usah Pak, saya percaya. Terimakasih sudah mengingatkan.”
“Iya, sama-sama”
Supir mulai bertindak, namun, mobilnya tidak bisa berjalan mundur. Ban depan tersangkut batu yang lumayan besar. Ibu menyuruh Kak Rifa dan aku turun untuk mengurangi beban, tapi semuanya sia-sia. Akhirnya, ibuku ikut turun juga, tak ada pengaruhnya. Kak Pran dalam keadaan serba salah, jika di jalankan mobil itu masuk jurang. Ia hanya bisa pasrah menginjak rem dan terus mencoba menjalankan mobilnya ke belakang. Sudah hampir sepuluh menit mencoba, tetapi tetap tidak bisa.
Bapak yang tadi mengingatkan, akhirnya mencari bantuan. Aku dan keluargaku ramai dikerubungi warga setempat, mereka membantu mengeluarkan mobil dari jalan yang mengerikan itu menggunakan tambang seadanya. Tak ada yang berbeda, mobil itu tetap bersikukuh pada pendiriannya. Dia tidak mau berjalan mundur. Aku dan Kak Rifa hanya bisa menangsis menyaksikan kejadian itu, sedangkan ibu membantu para warga.
Setelah semuanya hampir kehilangan asa, sebuah angkot lewat. Angkot tersebut diberhentikan oleh salah satu warga agar mau membantu kami. Ditalikan salah satu tambang pada angkot . Satu, dua, tiga, semua orang menarik kembali mobil kami, dibantu dengan tenaga angkot tadi.
Hampir 1800 detik kami terjebak dalam kengerian dunia, dalam keadaan mati ataupun bernyawa. Aku hanya bisa tertidur di mobil, setelah menghabisakan banyak air mata. Itu, adalah kejadian paling memilukan yang pernah aku alami. “Terimakasih ya Allah, Engkau masih memberikan pelindungan untuk keluargaku hari ini” batinku dalam hati.

Cerpen ini, gue buat berdasarkan pengaam gue. Selamat membaca, semoga bermanfaat :)

Cerpen 1 "TETES SEBUAH HARAPAN"

Contoh cerpen yang banyak memiliki nilai-nilai kehidupan. Semoga bermanfaat :)

Tetes Sebuah Harapan
Karya : Alisa Latifatul Munawaroh

            Petir menggelegar merobek kebisuan senja. Angin berhembus kencang menerbangkan sisa-sisa atap yang telah rapuh. Angan-angan terbang melayang berpadu dengan alunan tetesan hujan. Sudah sejak lama anak itu termangu memandangi butiran air yang menggelinding, menggelinding melewati satu-satunya jendela kaca di rumah tua. Setiap tetesan, tersimpan berbagai keluh kesah hidupnya, yang hanya bisa ditorehkan ketika hujan, ketika kaca itu mulai kedinginan.
            Hari ini, Tono memang sedang tidak mendendangkan lagunya, mengalunkan suara emasnya di jalanan, ataupun melambai-lambaikan tangan mungilnya di halaman parkir. Ia tak tega jika harus membiarkan ibunya terkena guyuran air dari sela-sela penyangga atap rumah. Ia tak tega melihat guratan-guratan kesedihan dan ketakutan yang terukir di wajah adik kesayangannya. Tetapi, ia juga bingung, ke mana kaki ringkihnya harus menapak, sementara semua dinding telah termakan usia.
            Semuanya telah rapi, tak ada lagi kekhawatiran jikalau nanti langit menangis lagi, Tono siap melakukan semuanya. Ia siap mengadu nasib di jalanan kota, siap membiarkan tubuhnya melawan panas terik sang surya, tanpa pelindung apa-apa. Ia tampak cerah, secerah mobil mewah yang akan menunjang impinnya.
            Dua hari berlalu, waktu melangkah tak beraturan, semakin cepat dan cepat. Dua hari itu pula, Tono tak henti-hentinya melirik sebuah benda berwarna hitam yang terpajang di etalase toko tempat ia membanting tulang. Ia selalu terpana dengan sepatu model baru tersebut. Wajar saja, sepatu yang menemani kakinya bersekolah tak lagi layak pakai, semua bagian telah rusak. Namun, ia tak bisa menceritakan keinginan yang mendera hatinya, ia tak sanggup menambah beban di pundak ibunya. Hanya tetesan hujan yang mengerti, yang bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan semua isi hati. “Ya Allah, kapan aku bisa memiliki sepatu itu?” ucap Tono di dalam sanubari.
            Detik demi detik bergulir, hati Tono tak bisa tenang lagi. Ia takut jika sepatu impiannya menjadi milik orang lain. Ia hanya bisa berdoa dan berdoa. “ Ya Allah aku bersyukur engkau masih memberiku kesempatan untuk memandangi sepatu itu, biarkanlah aku memilikinya ya Allah, biarkanlah aku memilikinya tanpa harus menyusahkan ibu. Segalanya kuserahkan hanya kepada Engkau. Amin” air mata perlahan-lahan berjalan diselingi rintikan lembut hujan yang mengelus pipi. Hanya itu yang bisa ditumpahkan, tanpa ada seorangpun yang tahu pinta hati kecil Tono.
            Tin…tin…tin… Tono dikagetkan oleh suara klakson mobil sedan warna merah menyala.  Sejenak, pandangan mata Tono berpindah dari sepatu ke mobil tadi, ia memberikan aba-aba agar mobil tersebut parkir tepat disamping pohon palem. Selesai memarkirkan, Tono kembali ke tempat ia duduk. Ia lupa akan sepatunya.
Sejam kemudian, jantung Tono berdetak kencang,  dalam hidungan detik jiwanya lumpuh. “Benda itu menghilang, benda itu menghilang” ucap Tono tanpa daya. Hatinya melemah, semuanya terasa suram. Harapannya telah musnah.
            Tono memutuskan untuk bangkit dan masuk ke toko sepatu dengan penuh harapan,
 “Maaf Mbak, tadi sepatu yang dipajang di sini mana ya mbak?” tanya Tono dengan suara gemetar.
“Sepatu yang mana?” jawab penjaga toko.
“Sepatu hitam yang di sini?” kata Tono sambil menunjuk suatu tempat,
“Sepatu hitam? Oh, sepatu itu. Sepatunya sudah dibeli sama bapak-bapak lima belasan menit yang lalu Dek”
“Bapak yang mana? Pakai baju apa?”
“Baju apa ya? Saya lupa Dek”
“Ayolah Mbak, coba diingat-ingat lagi”
“Oh, bapak yang itu Dek, yang masuk ke mobil hitam itu” kata toko sambil meunjuk seseorang.
            “Mbak yakin?”
            “Yah, adiknya malah nggak percaya. Saya yakin sekali, memang kenapa?”
            “Oh, terimakasih Mbak” Tono berlalu tanpa menjawab pertanyaannya. Penjaga toko hanya bisa menggelengkan kepala sambil melihat Tono berlalu.
            Keluar dari toko, bapak tadi sudah menancapkan gas pada mobil mewahnya, Tono melangkahkan kaki dengan cepat mengejar mobil tersebut. Karena mobilnya berjalan dengan cepat, Tono kehilangan jejak. Tubuhnya semakin lemas, hatinya luluh lantak seketika. Langkahnya menepi, ia hanya bisa berjalan perlahan untuk menyelesaikan hari ini.
            “Ya Allah, aku ikhlas dengan keputusan Engkau, terimakasih untuk hari ini, untuk pelajaran berharga yang telah kau berikan, pelajaran untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah aku miliki dan senantiasa bersabar menerima semua kehendak Engkau” goresan Tono memenuhi kaca yang berembun, ruang hatinya kini telah hangat kembali. Tak ada penyesalan yang tertinggal untuk hari ini, segala kerisauan telah musnah bersama ribuan bintang yang menghias langit-langit malam. Ia yakin, dibalik semuanya, pasti ada ada hikmah terpendam. Bibir kecilnya mulai tersenyum hangat.
            Sepulang sekolah, Tono turun ke jalan untuk bernyanyi. Ia benar-benar meresapi lagu yang dilantunkannya, banyak orang yang tertarik untuk sekadar mengisi waktunya walaupun kepanasan, serta tidak ragu-ragu untuk memberikan sedikit imbalan.
            Selesai bernyanyi, seorang ibu mengenakan baju biru mendekati Tono.
            “Pandai sekali kamu Nak” kata ibu itu menyanjung.
            “Ibu bisa saja, terimakasih” balas Tono dengan senyuman.
            “Siapa namamu?”
            “Nama saya Tono”
            “Nama yang indah, kamu mau ibu kasih hadiah?”
            “Hadiah untuk apa?”
            “Hadiah untuk kamu karena telah berhasil menghibur hati ibu. Mau kan?”
            “Wah, iya. Hadiah apa?”
            “Masuklah ke dalam mobil ibu, kemudian ibu akan segera memberikan hadiahnya”
            “Ta…ta…pi”
“Sudah, tidak usah sungkan. Ibu tidak berniat macam-macam kok.”
“Tidak usah, maaf sebelumnya”
“Lho, kenapa? Kamu pasti tidak akan menyesal”
“Tapi, sa…” belum selesai berbicara, Tono didorong oleh ibu tadi masuk ke mobil.
Setelah masuk, Tono ketakutan, ia takut ibu itu berbuat macam-macam. Pikirannya terbang tak terkendali. Namun, dilain itu, Tono yakin kalau ibu itu berniat baik kepadanya.
Perhatian Tono beralih setelah melihat dua buah benda tergeletak di atas jok tengah, sebuah gitar bekas dan sepasang sepatu yang masih bagus tertata rapi. Ia tak tau apa yang akan diberikan kepadanya sebagai hadiah. Namun, tak terbendung lagi, tangan Tono hangat terkena aliran air mata yang terjun melewati kedua pipinya

Puisi Tema Percintaan

Gue mau share sedikit nih tentang puisi hasil karya gue dengan tema percintaan, soalnya gue sebel udah mbikin susah-susah Eh nggak ada yang baca :(

Rindu Tak Berbatas

Merenung mengingat segalanya
Pahit manis telah terkandung tanpa rencana
Membisikkan kenangan yang telah dilalui bersama
Tak bisa lagi berpaling dan membelakangi kenyataan
                        Serasa tak sanggup tuk bertahan
                        Menahan gejolak dalam dada
                        Menahan rindu dalam sendu
                        Menaruh mimpi dalam sebuah ilusi
Terlalu lama waktu melangkah
Hingga air mata dan kebahagiaan terpendam tanpa aturan
Terlalu dalam rindu ini kugantungkan
Hingga tak mampu rasakan hati yang tlah kau bekukan
                       Hatiku tanpa kehadiranmu
                       Bagaikan malam tanpa kehadiran bintang*
                       Bagaikan rahasia tanpa kehadiran kitab
                       yang tak bermakna apa-apa
Walau kini kau tak dihadapan
Kau tak perlu cemas
Karena akan selalu kutitipkan senyum rinduku pada dinginnya malam
Hanya untukmu, hanya untukmu seorang
                      Aku di sini jika kau akan berlabuh
                      Aku di sini jika kau akan kembali
                      Tetap di sini sampai raga tak berdaya
                      Tetap di disini tanpa batasan asa
Berikut puisi karya gue, moga bermanfaat :) :*

Makam Mbah Dimyati Ahmad

Makam Mbah Dimyati Ahmad terletak di atas bukit Desa Kemukus Kaliwiro. Disana juga terdapat makam-makam para pejuang 45. Jika sobat berziarah kesana, maka sobat akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Ketika saya kesana, dalam perjalanan saya dimanjakan oleh pesona alam yang masih terjaga keasriannya. maklumlah, Kaliwiro yang terletak di Kabupaten Wonosobo ini, sebagian besar daerahnya masih berupa hutan. Disamping kanan dan kiri jalan tampak hijaunya rumput yang membentang luas dengan pohon-pohon yang tumbuh tinggi menutupi langit-langit. Berbagai jenis burung juga masih banyak dijumpai, jalan yang berkelak-kelok juga cukup mengaduk-aduk perut tetapi dijamin bakalan ketagihan. ;-)Cobalah berziarah kesana, cari tahu sendiri hasil yang akan sobat dapatkan!



 Happy blogging Sobat ^_^

"Makam Di Gunung Tidar"

Gunung Tidar berada di kota Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Disana sering digunakan untuk wisata spiritual seperti ziarah makam, lebih tepatnya ziarah ke petilasan Syeh Subakir, makam Kyai Panjang, dan makam Sang Hyang Ismoyo Jati atau biasanya disebut Kyai Semar.
 Sobat, sebenarnya gue baru satu kali pergi kesana, walaupun cuma satu kali, udah termasuk pengalaman yang menyenangkan buat gue, letak makam-makam yang udah disebutin di atas ada di puncaknya gunung lho, kalo mau sampai ke sana harus jalan kaki menaiki tangga-tangga yang semakin ke atas semakin curam ditemeni  banyak monyet yang hidup liar digunung tersebut, para monyet memang dibiarkan hidup liar karena disana memang  habitat asli mereka.
Perjalanan dari bawah sampai puncak gunung cukup memakan waktu yang lama, capek pula. Namun kalo kita sudah sampai atas terbayar sudah semua rasa capek. Susah deh diungkapin dengan kata-kata :D
  • Petilasan Syekh Subakir
Tempat pertama yang kita jumpai setelah sampai puncak adalah petilasan Syekh Subakir, di dekat petilasan juga terdapat musholla kecil dan pendopo untuk tempat istirahat sejenak. Kijing petilasan dikelilingi pagar tembok yang berbentuk lingkaran dan tanpa atap.
  • Mkam Kyai Panjang
Makam pertama  yang kita jumpai setelah petilasan Syekh Subakir adalah makam Kyai Panjang, panjang makamnya mencapai 8 meter lho sobat.

Dari makam Kyai Panjang gue jalan ke utara lagi menaiki tangga kemudian sampailah di Makam Kyai Semar, sebelum naik ke makam, gue sama keluarga menyempatkan diri foto-foto dulu di tugu putih yang letaknya sebelum makam. Gue share sedikit yha fotonya ^^ (jika terlihat unus mohon dimaklumi, wkwk :D)





Sebenarnya gunung tidar juga digunakan sebagai tempat sekolah Akademi Militer (Akmil) jadi kita harus berhati-hati, jangan melewati tempat-tempat tertentu yang dilarang karena mungkin ada granat atau semacamnya.
  • Makam Kyai Semae (Hyang Ismoyo Jati)
Setelah cukup puas berfoto ria, kita melanjutkan perjalanan menuju makam Kyai Semar dan tahlilan disana, Makam Kyai Semar bentuknya kerucut berwarna kuning, di dasar kerucut dikelilingi terdapat tulisan jawa Hanacaraka dan di puncaknya disunduk dengan janur kuning.Makam juga dikelilingi  pagar tembok yang berbentuk persegi , angka 9 pada panjang dan lebar tembok melambangkan Wali Songo yang jumlahnya ada 9 sebagai penyebar Agama Islam di pulau Jawa. Di komplek makam juga terdapat pohon Jati yang memang dibiarkan berada di dalam kompleks makam sesuai dengan nama Sang Hyang Ismoyo Jati. Selain hal-hal diatas, Lantai kijing Kyai Semar juga dikelilingi dengan kaca cermin lho sobat, kaca tersebut dibuat supaya setiap orang yang berziarah bisa berkaca terlebih dahulu, apakah wajahnya berupa hewan atau manusia.

Yeah, berikut postingan gue kali ini, moga bermanfaat ya? Happy Blogging :*




"Lirik dan MV "Part Of Me" Katy Perry"

Good day everybody???
kali ini gue  mau posting tentang lagu terbarunya Katty Perry nih di bulan Maret, sobat pasti dah tahu dong apa lagunya? Yapz, benar sekali. "Part Of Me" atau dalam  bahasa indonesiannya bagian dariku, ahaha :D, kalo nggak salah lho !!! hehe piece :-)

Lirik Lagu Part Of Me 


Days like this I want to drive away
Pack my bags and watch your shadow fade
You chewed me up and spit me out
Like I was poison in your mouth
You took my light, you drained me down
But that was then and this is now
Now look at me
[Chorus:]
This is the part of me
That you’re never gonna ever take away from me, no
This is the part of me
That you’re never gonna ever take away from me, no
Throw your sticks and your stones, throw your bombs and your blows
But you’re not gonna break my soul
This is the part of me
That you’re never gonna ever take away from me, no
I just wanna throw my phone away
Find out who is really there for me
You ripped me off your love was cheap
Was always tearing at the seams
I fell deep, you let me down
But that was then and this is now
Now look at me
[Chorus]
Now look at me I’m sparkling
A firework, a dancing flame
You won’t ever put me out again
I’m glowin’ oh whoa
So you can keep the diamond ring
It don’t mean nothing anyway
In fact you can keep everything yeah, yeah
Except for me
[Chorus]
This is the part of me
No
Away from me
No
This is the part of me, me, me, me, me, me, me, me…
No
Throw your sticks and your stones, throw your bombs and your blows
But you’re not gonna break my soul
This is the part of me
That you’re never gonna ever take away from me, no

Ayo, tonton juga videonya ya? Klik di bawah ini !!